Minggu, 14 Maret 2010

Mengenang Kebesaran Kerajaan Hindu Martadipura


Sebagian kita tentu merasa agak asing dengan nama Martadipura, apabila penyebutannya dikaitkan sebagai kerajaan berdiri sendiri. Orang banyak entah karena familiar saja atau terpeleset pengertian dan lidah atau sengaja mempelesetkan saja, lebih senang menyebut kerajaan ini sebagai Kutai Mulawarman atau Kutai Martadipura.

Padahal Kerajaan yang disebut-sebut sebagai Kerajaan tertua di Indonesia ini, adalah sebuah kerajaan yang terpisah sama sekali dari kerajaan Kutai Kartanegara. Kerajaan Martadipura adalah sebuah kerajaan bercorak hindu, dan didirikan penduduk Asli Kalimantan Timur bersama beberapa bangsawan dan Brahmana dari India pada sekitar abad Ke 4 Masehi.

Baru pada tahun 1635 Martdipura bersatu dalam lingkungan Kekuasaan Kutai Kartanegara, setelah dianeksasi melalui sebuah perang dahsyat yang akhinrnya menghancurkan sama sekali Dinasti Mulawaraman. Ketika perang terjadi Martadipura dipimpin oleh Maharaja Darmasetia raja yang ke 25, dan Kartanegara dipimpin raja ke 8 bernama Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa , yang cukup menarik di sini adalah pemakaian istilah Maharaja bagi raja-raja Martdipura, dan istilah Aji bagi Kartanegara.

Apakah gelaran Aji Pangeran dan Aji Batara serta Aji Dipati, yang dipakai Raja Kutai ini terkait status kerajaan yang sebenarnya masih merupakan daerah vasal dari Martadipura. Nampaknya memang perlu studi mendalam dari para arkeologis dan budayawan Indonesia.

Ibu kota Kerajaan bernama Martapura terletak di Benua Lawas yang letaknya adalah sisi kiri mudik Sungai Mahakam atau arah Ulu seberang Muara Kaman saat ini. Martapura berarti Istana Tempat Pengharapan, dengan pendirinya adalah seorang Raja bernama Kedungga dengan istrinya bernama Sri Gabok berasal dari Negeri Tebalai Indah seberang Muara Kaman saat ini.

Kemudian hari ketika kerajaan sedang dilanda huru hara lantaran serangan gerombolan raksasa, Kudungga yang sedih tidak dapat membasmi raksasa-raksasa tersebut, akhirnya pergi bersemedi ke sebuah wilayah bernama Negeri Pantun yang terletak di Kecamatan Muara Wahau Kutai Timur sekarang. Dalam persemediannya itu Kedungga bertemu dengan seorang pemuda tampan yang mengaku sebagai Aswawarman Pangeran dari Negeri Kalingga di India.

Kepada Aswarman kemudian Kudungga menanyakan apakah ia sanggup membantu rakyat Martadipura untuk membunuh gerombolan raksasa yang selalu merusak rumah dan menganiaya warga. Aswawarman menyanggupinya, kemudian bersama mereka berhasil mengalahkan para raksasa. Sebagai tanda bangga dan ucapan terima kasih akhirnya Aswawarman dikawinkan dengan putri Kedungga.

Dari Perawinan itu akhirnya lahir tiga orang putra, diantara tiga orang putra itu Mulawarman adalah yang terkemuka. Ia diangkat menjadi Raja Martdipura bernama Maharaja Sri Mulawarman Naladewa. Dalam prasasti Yupa ia disebutkan sebagai raja yang berani dan perkasa, mampu menaklukkan musuh di medan perang dan menjadikan negerinya sebagai bawahan.

Mulawarman juga seorang raja yang dermawan, terbukti dengan hadiah yang diberikannya pada para Brahmana berupa ribuan ekor sapi dalam sebuah upacara yang disebut Bahusuwarnakan. Nama Mulawarman sendiri artinya adalah "selembar akar" .

Dibawah pimpinan Maharaja Mulawarman, kehidupan sosial dan kemasyarakatan diyakini berkembang dengan baik. Pemerintahan berpusat di Keraton yang berada di Martapura wilayah kekuasaannya terbentang dari Dataran Tinggi Tunjung (Kerajaan Pinang Sendawar), Kerajaan Sri Bangun di Kota Bangun, Kerajaan Pantun di Wahau, Kerajaan Tebalai, hingga ke pesisir Kalimantan Timur, seperti Sungai China, Hulu Dusun dan wilayah lainnya.

Kuatnya kekuasaan Mulawarman saat itu tidak lepas dari peranan dan Jasa kaum Brahmana. Sebagai pemuka agama mereka memberikan dorongan spiritual yang memantapkan hati Mulawarman dalam mengalahkan musuh di medan perang. Dengan penaklukan terhadap kerajaan-kerajan kecil tersebut, kondisi negara dapat stabil sehingga suasana tentram dapat berjalan selama masa pemerintahannya.

Apalagi ketika itu perdagangan dengan negara luar dapat berjalan dengan, bandar Muara Kaman yang berada di Tanjung Gelombang, sebelah barat Bukit Berubus sekarang ramai didatangi Jung-jung dari negeri tiongkok dan India. Para pedagang India membawa berbagai dagangan seperti kain dan manik-manik, serta keagamaan yang dibarter dengan hasil alam setempat, berupa Tengkawang, rotan, dan emas.

Demikian pula pedagang Tiongkok mereka membawa berbagai guci dan barang keramik untuk dibarter dengan hasil alam setempat. Hasil alam yang melimpah, baik emas, ikan dan pertanian serta peternakan berjalan dengan baik.

Pelabuhan Tanjung Gelombang adalah sebuah pelabuhan alam yang dikeliling Danau sangat luas ketika yakni Danau lipan. Apabila ditelusuri saat ini, nampak sekali bila keberadaan Bukit Berubus dan Martapura adalah sebuah gundukan bukit yang pada masa lalu dikeliling danau luas bagaikan lautan.

Sampai saat ini bekas lokasi pelabuhannya masih ada di Muara Kaman, demikian pula dengan berbagai kanal buatan serta kubu-kubu pertahanan masih terdapat di sana. Bahkan beberapa tahun lalu beberapa Arkeolog dari Universitas Brawijaya Malang, melakukan penelitian dan menemukan banyak stuktur bangunan dari bata merah yang disinyalir adalah undakan atau pondasi bangunan candi di bukit Berubus lokasi yang sama dengan ditemukannya prasasti Yupa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar